Antara Garam, Air Segelas, dan Air Danau

9 May 2008 – 16:59 by Sriyanto

Ingatanku kembali terngiang pada taujih Ustadz Ahmad Arqam sewaktu masih di Surabaya dulu. Yaah…, manusia bakal mengalami sekian banyak peristiwa dibarengi dengan sekian banyak pula permasalahan, silih berganti. Inilah yang kemudian menjadikan ritme kehidupan manusia dinamis.

Masalah adalah bumbu kehidupan. Rasanya gak rame kalo gak ada masalah, datar-datar saja…(Bukan berarti kita harus cari-cari masalah lho…, karena masalah bisa bikin kita pusing tujuh keliling, atau menjadikan kita kurus kering). Tidak ada seorang di dunia ini yang bebas sama sekali dari masalah. Sudah menjadi sunnatullah, semua manusia bakal diuji Allah dengan berbagai masalah. Itulah wujud kecintaan Allah pada hambaNya. Penyikapan terhadap masalah bisa membawa seseorang kepada derajat mulia (karena keteguhan iman dan husnuzhannya kepada Allah), atau sebaliknya, hina dina (karena lunturnya iman dan suuzhannya kepada Allah).

Masalah bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihadapi, dicarikan solusi sehingga kita lulus uji, menjadi orang yang berprestasi dalam hidup ini. Yaah…, menyelesaikan masalah adalah suatu prestasi. Maka jangan sampai lupa bersyukur selepas kita berhasil menyelesaikan suatu masalah.

Menghadapi masalah membutuhkan kesiapan hati. Untuk menjadi pemenang, pastikan hati kita terjaga agar tetap suci (yah…. sering-sering kita tazkiyyatun nafs, nyuciin hati, by evaluasi diri/muhasabah, tafakur ayat-ayat kauni, tadabbur ayat-ayat qauli, nuntut ilmu/thalabul ‘ilmi, banyak-banyak berdzikir, utamanya mengingat mati/dzikrul maut, dan tak lain dan tak bukan, menghiasi diri dengan akhlak terpuji, dan sarana-sarana yang lain). Hati nan suci akan memiliki keleluasaan ruang untuk merekam setiap peristiwa dan mengambil pelajaran/ibrah-nya.

Masalah diibaratkan garam. Sementara ruang hati kita diibaratkan gelas atau danau yang berisi air. Garam yang dimasukkan ke dalam segelas air akan menjadi air garam, yang kalau kita meminumnya tentu mikir-mikir dulu asinnya, semakin banyak konsentrasi garamnya, semakin pula kita tidak tahan rasanya, tidak enak, bisa-bisa muntah (kecuali air garam yang ditambah gula pasir dalam porsi yang sesuai, bisa jadi oralit yang efektif nggantiin cairan tubuh yang keluar sewaktu kita diare. Ini sih….obat, manfaat.). Nah sebaliknya jika garam dimasukkan ke sebuah danau yang berisi air, kalaupun kita mengambil airnya akan tetap terasa segar (karena saking kecilnya konsentrasi garam dibandingkan dengan volume air danau). Hal ini menggambarkan kelapangan hati kita dalam menghadapi masalah akan berpengaruh kepada perasaan, pikiran dan hidup kita, apakah terasa begitu sempit, berat nan menyesakkan, atau biasa bahkan ringan nan membawa kita kepada suatu pelajaran, membawa kita kepada kedewasaan dan kebijaksanaan..

Nah tinggal kita memilih, pilih air segelas atau air danau. Mangga….

(Special advice for myself that still feel complicated…)

Post a Comment