Titi Mangsa

31 December 2009 – 13:55 by Sriyanto

(syair versi Jawa : Geguritan)

Yen wus tekan titi mangsane…
ora bakal bisa selak,
ora bakal bisa semaya,
nadyan ta tinameng benteng baja cacah lima.

Yen wus wancine sowan,
ora bisa alesan,
ora bisa njaluk kelonggaran,
nadyan ta ilu nganti kentekan.

Pesthining Gusti wus ginaris,
Manungsa mung sadrema nglakoni.
Becik enggal gegancang tumindak amal,
Mumpung durung ketekan ajal.

Bandha, donya, lan keluwarga ora bisa terus ngancani,
paling mung tumekeng astana laya, pasareyan kasedan jati,
banjur bali…
Mung siji kang bakal terus ndhampingi,
amal becik suci trusing ati,
nylametake saka siksa kang nggegirisi,
nyaketake rahmat lan pitulunganing Allah kang dianti-anti.

Peristiwa Malam

27 July 2008 – 21:49 by Sriyanto

Malam semakin larut
Hembusan angin mengawal tarian dedaunan
Riuh suara jangkrik bersahut-sahutan
Kelelawar sibuk beterbangan mencari makan
Temaram cahaya rembulan
Kerlip bintang gemintang bertaburan

Di sana …, di sebuah rumah mewah itu
Ada dengkuran pulas seorang majikan
Lelah bekerja seharian

Di pojok dunia yang lain, di sebuah tempat hiburan
Ceracau suara tak karuan akibat minuman
Sambil bergoyang mengusir kegalauan

Sementara itu… di sebuah rumah sederhana namun tertata
Seorang wanita setengah baya khusyu’ berdo’a
Meleleh air matanya, mohon ampun atas dosa-dosanya

Roda Kehidupan

26 July 2008 – 21:48 by Sriyanto

Kala kutapaki kehidupan ini
Kutemui jalan lurus, halus nan menyenangkan
Senyum, tawa, dan kelegaan, suka cita melaluinya
Namun…
Suatu waktu kutemui jalan berliku, bergelombang, bercadas nan menyusahkan
Peluh keringat, geram, dan kelelahan, duka cita menjalaninya
Hidup ini ibarat putaran roda
Suatu saat ada di atas, di saat lain ada di bawah
Suatu saat bahagia, suatu saat menderita
Ku sadari …
Inilah cara Allah Sang Khaliq mendidik kita
Ujian demi ujian, peristiwa demi peristiwa membawa pelajaran berharga
Membuka hati kita cerdas melihat ayat-ayatNya
Mengambil untaian hikmah, membawa kita semakin bijaksana

24 Jam, Lebih Apa Kurang yaa…

25 July 2008 – 21:47 by Sriyanto

Waktu memiliki keunikan tersendiri. Waktu bisa sangat berarti bagi kehidupan seseorang namun bisa tak berarti bagi kehidupan orang lain. Waktunya sama, namun efeknya bisa sangat berbeda. Setengah jam bagi yang baca buku dengan setengah jam buat nonton infotaintment beda kan maknanya…?

Yup, masing-masing dari kita dierikan waktu 24 jam sehari semalam. Pak presiden diberi waktu 24 jam, penjual jerigen pun diberi 24 jam. Pak direktur diberi 24 jam, kondektur juga 24 jam. Mahasiswa 24 jam, tunawisma juga 24 jam. Anehnya dengan wakt yang sama tersebut, seseorang bisa mengurus ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang, akan tetapi di sisi lain, ada orang yang mengurus dirinya sendiri saja kewalahan.

Bagi seorang muslim, waktu adalah kehidupan. Waktu adalah ruang-ruang ibadah dan amal kita. Semakin pandai kita menguasai waktu, maka semakin besar peluang kita untuk menjadi mulia di hadapan Allah. Namun rasanya syaitan tiada pernah ridha membiarkan manusia taat kepada Khaliqnya. Syaitan menghembuskan tipu daya dan bujuk rayunya sehingga manusia terlena dengan waktunya, menghambur-hamburkan waktunya sia-sia, menunda-nunda amalnya, atau bahkan menggunakan waktunya untuk bermaksiyat kepada Allah.

Sering kita merasa seolah waktu begitu sempit. Menggunakan alasan ketiadacukupan atas pekerjaan-pekerjaan kita yang tidak selesai. Padahal kalau dicermati, berapa banyak waktu yang belum terberdaya, berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia karena kemalasan kita. Bagaimana nasib umat ini jika masing-masing terlena. Umat ini akan tertinggal. Umat ini akan terbelakang.

Allah mengingatkan berkenaan dengan waktu dalam firmanNya QS Al Ashr:1-3, bahwa kebanyakan manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih, yang memanfaatkan waktunya untuk saling menasehati dalam kebaikan, dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.

Syukur itu Indah

24 July 2008 – 21:47 by Sriyanto

Hidup ini akan terasa susah jika kita menjalaninya dengan keluh kesah. Dan hidup ini menjadi indah kala kita isi hari-hari dengan syukur atas karunia Allah yang terlimpah. Sesak memang ujian hidup disikapi dengan ratapan penyesalan dan keluh kesah, bukannya masalah tambah terang, namun malah bertambh runyam. Sebaliknya hati lang dan tenang ketika rasa syukur mampu kita hdirkan dalam perjalanan hidup kita.
Allah SWT telah berjanji akan menambah nikmatNya jika kita bersyukur dan memberi peringatan akan siksaNya yang pedih atas sifat kufur nikmat kita. (QS. Ibrahim:7). Nikmat yang Allah karuniakan untuk kita tak terhitung jumlahnya. Kalaupun kita mau menghitungnya, otak kita nggak bakalan mampu. Sebut saja organ-organ tubuh kita. Jantung yang memompa darah sepanjang hari, tak istiraht meski 5 menit, nggak waktu kita terjaga, waktu tidur pun jantung tetap bekerja. Paru-paru mengolah gas-gas yang diperlukan tubuh kita (misal Oksigen) dan membuang gas-gas beracun ke udara bebas kembali (misal karbondioksida). Panca indera yang memudahkan kita beraktivitas mencukupi kebutuhan kita. Semua menunjukkan kasih Allah kepada makhlukNya.

Wujud syukur kita, tidak cukup hanya mengucap Alhamdulillah semata, namun bagaimana menggunakan karunia Allah itu untuk meningkatkan kualitas ketaatan dan ketundukan kita kepada Allah Sang Pemberi Rizki.

Cerdaskah Kita?

24 June 2008 – 21:37 by Sriyanto

Cerdas itu suatu prestasi
Cerdas itu suatu prestise
Cerdas itu suatu kehormatan
Cerdas itu suatu kebanggaan

Di dunia ada Bill Gates, Linus Trovald, Thomas Alfa Edison, dan Einstein
Di Indonesia ada Pak Habibi, Pak Dirman, dan Pangeran Diponegoro
Mereka cerdas? Yaa…mereka cerdas, brilliant
Mereka orang-orang pilihan? Yaa… mereka orang pilihan, berotak cemerlang

Lantas… Bagaimana dengan kita?
Tenang…
Cerdas tak harus ber-IQ di atas 200
Rasulku Muhammad mengabarkan…
Dinamakan cerdas…,
mereka yang sering mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk akhiratnya.

Gelisah

11 May 2008 – 17:20 by Sriyanto

Bait-bait kehidupan membukukan hitam putih diary manusia
Kala seorang insan bertanya:
Akankah hidupku terus seperti ini?
Aku hidup bergelimang harta
Jabatan? Jangan kau tanya
Ibarat istana, aku penguasanya
Pendamping? Kupilih dan kudapatkan wanita nan cantik jelita
Kendaraan? Mobil BMW terbaru pun aku punya lima
Rumah? Mau yang di kota, di desa, di gunung, di pantai, aku pun punya
Aku punya segala-galanya
Tapi…
Ada yang tak kupunya
CINTA…
Ya, cinta sejati yang menenangkan hati
Tak ada kedamaian, tak ada oase jiwa
Hati ini perih, meradang…
Aku sadar, dunia bukan segala-galanya
Dunia telah memperalatku, menghalalkan segala cara
Aku jenuh… aku bingung…
Aku butuh teman bicara…
Yang membawaku menuju cinta-Nya

Menggapai Kemuliaan dengan Menebar Amal Sebanyak yang Kita Bisa

10 May 2008 – 17:16 by Sriyanto
Inna akramakum indallahi atqakum. Demikian Allah menunjukkan kepada kita hakikat mulia di sisi-Nya. Bukanlah yang paling mulia adalah yang paling kaya, atau yang paling tinggi jabatannya, yang paling cerdas, atau yang paling baik parasnya. Allah Maha Adil, sehingga siapapun tanpa pandang bulu, berkesempatan menjadi termulia. Allah tandaskan yang termulia di antara kita di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa.Takwa tiada lain dan tiada bukan, muncul dari jiwa-jiwa yang tunduk taat kepada-Nya, didasari iman yang teguh kepada syari’at-Nya. Refleksi iman yang benar adalah dengan amal-amal shalih yang menghiasi kehidupan kita sebagaimana yang tersurat dalam QS. Al Ashr ayat 3, orang yang beruntung adalah orang yang beriman dan beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.

Sekian banyak amal berpeluang untuk membawa kita menjadi manusia yang mulia. Amal tidak harus besar dan monumental. Rasul memberikan arahan, amalan yang istiqamah meskipun kecil lebih dicintai Allah. Cobalah kita berkaca pada amalan Bilal, yang terompahnya saja sudah terdengar di surga, karena amalan wudhu’ dan shalat syukrul wudhu’nya.

Allah memotivati manusia untuk beramal dengan ayat-Nya di QS. Al Baqarah ayat 261. Pohon amal yang luar biasa. Setiap harta yang kita infaqkan di jalan Allah bisa berbalas 700 kali lipat. Selanjutnya amalan yang sangat mudah kita lakukan (namun kadang kita lupakan) adalah mengawali aktivitas kita dengan Basmalah dan mengakhirinya dengan Hamdalah. Amalan ini membuat aktivitas tersebut bernilai ibadah. Lalu, amalan yang ringan namun bernilai sedekah misalnya dengan sungging senyum ramah kita kepada saudara kita, kemudian salam yang menghilangkan kedengkian dan menumbuhkan kedamaian. Bacaan Qur’an kita, yang oleh Rasul dikabarkan 1 huruf berbalas 10 kebaikan. Bacaan Qur’an kita juga yang berkesempatan menjadi syafa’at kelak ketika di akhirat. Atau lafal “Subhaanallaah wabihamdih subhaanallaahil azhiim”, yang ringan di ucapan namun berat di timbangan kelak.

Jadi, untuk menebar benih amal shalih sebenarnya bukanlah perkara yang memberatkan. Justru dari amalan keseharian, dari yang kecil-kecil itulah barangkali yang akan membawa kita kepada kemuliaan. Kalau tidak beramal mulai dari sekarang, kapan lagi?

Antara Garam, Air Segelas, dan Air Danau

9 May 2008 – 16:59 by Sriyanto

Ingatanku kembali terngiang pada taujih Ustadz Ahmad Arqam sewaktu masih di Surabaya dulu. Yaah…, manusia bakal mengalami sekian banyak peristiwa dibarengi dengan sekian banyak pula permasalahan, silih berganti. Inilah yang kemudian menjadikan ritme kehidupan manusia dinamis.

Masalah adalah bumbu kehidupan. Rasanya gak rame kalo gak ada masalah, datar-datar saja…(Bukan berarti kita harus cari-cari masalah lho…, karena masalah bisa bikin kita pusing tujuh keliling, atau menjadikan kita kurus kering). Tidak ada seorang di dunia ini yang bebas sama sekali dari masalah. Sudah menjadi sunnatullah, semua manusia bakal diuji Allah dengan berbagai masalah. Itulah wujud kecintaan Allah pada hambaNya. Penyikapan terhadap masalah bisa membawa seseorang kepada derajat mulia (karena keteguhan iman dan husnuzhannya kepada Allah), atau sebaliknya, hina dina (karena lunturnya iman dan suuzhannya kepada Allah).

Masalah bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihadapi, dicarikan solusi sehingga kita lulus uji, menjadi orang yang berprestasi dalam hidup ini. Yaah…, menyelesaikan masalah adalah suatu prestasi. Maka jangan sampai lupa bersyukur selepas kita berhasil menyelesaikan suatu masalah.

Menghadapi masalah membutuhkan kesiapan hati. Untuk menjadi pemenang, pastikan hati kita terjaga agar tetap suci (yah…. sering-sering kita tazkiyyatun nafs, nyuciin hati, by evaluasi diri/muhasabah, tafakur ayat-ayat kauni, tadabbur ayat-ayat qauli, nuntut ilmu/thalabul ‘ilmi, banyak-banyak berdzikir, utamanya mengingat mati/dzikrul maut, dan tak lain dan tak bukan, menghiasi diri dengan akhlak terpuji, dan sarana-sarana yang lain). Hati nan suci akan memiliki keleluasaan ruang untuk merekam setiap peristiwa dan mengambil pelajaran/ibrah-nya.

Masalah diibaratkan garam. Sementara ruang hati kita diibaratkan gelas atau danau yang berisi air. Garam yang dimasukkan ke dalam segelas air akan menjadi air garam, yang kalau kita meminumnya tentu mikir-mikir dulu asinnya, semakin banyak konsentrasi garamnya, semakin pula kita tidak tahan rasanya, tidak enak, bisa-bisa muntah (kecuali air garam yang ditambah gula pasir dalam porsi yang sesuai, bisa jadi oralit yang efektif nggantiin cairan tubuh yang keluar sewaktu kita diare. Ini sih….obat, manfaat.). Nah sebaliknya jika garam dimasukkan ke sebuah danau yang berisi air, kalaupun kita mengambil airnya akan tetap terasa segar (karena saking kecilnya konsentrasi garam dibandingkan dengan volume air danau). Hal ini menggambarkan kelapangan hati kita dalam menghadapi masalah akan berpengaruh kepada perasaan, pikiran dan hidup kita, apakah terasa begitu sempit, berat nan menyesakkan, atau biasa bahkan ringan nan membawa kita kepada suatu pelajaran, membawa kita kepada kedewasaan dan kebijaksanaan..

Nah tinggal kita memilih, pilih air segelas atau air danau. Mangga….

(Special advice for myself that still feel complicated…)

Mahalnya Nikmat

8 May 2008 – 16:56 by Sriyanto

Nikmat. Yah, satu kata yang bisa digabung dengan kata “minum susu”-nikmat, atau kalo orang-orang kampung asal-usulku mengatakan “makan singkong bakar” pun-nikmat (yup,…karena saking susahnya mencari black forest, karena gak ada yang jualan, atau emang begitu berat merogoh kocek untuk memanjakan diri menikmati manis kue itu). Tapi nikmat kali ini kita sambungkan dengan kata Allah, jadi nikmat Allah.

Sekian banyak nikmat yang kita terima dari Al Khaliq (hingga tak terhitung jumlahnya), sering kali membuat kita terlena, tak peduli untuk bersyukur, sekedar mengucap hamdalah aja gak teragendakan, sibuk dengan urusan dunia kita yang tak pernah habisnya. Baru ketika diuji dengan reverse nikmat itu, kita baru terjaga dari ke-alpa-an kita. Sebut aja, mahalnya nikmat sehat akan begitu terasa ketika kita sakit. Mahalnya waktu longgar akan begitu terasa ketika kita dalam himpitan kesempitan. Dua nikmat itulah yang dikabarkan Rasulullah sering dilupakan manusia. Karena 2 nikmat itu berpeluang manusia berbuat kesia-siaan yang menjauhkannya dari derajat mulia ketaqwaan.

Nah kalo kita bener-bener pengin mendapat predikat mulia di sisi Allah, satu jalan terpampang di hadapan kita : banyak-banyak bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah, sedikit banyak kita syukuri. Memahami syukur, melihatlah ke bawah. Artinya sekurang beruntung-beruntungnya kita, masih ada sekian banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada kita. Ini berkebalikan dengan cara kita memahami amal shalih lho yaa… Merasa diri kita masih begitu dangkal amal kebaikan dan kemanfaatn kita dibanding orang lain, sehingga memacu kita untuk terus ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba terdepan membawa panji-panji kebaikan. Dan kebaikan tidak harus monumental, tapi bisa kita mulai dari yang kecil-kecil dahulu, sedikit-sedikit akan tetapi istiqomah. Jangan sepelekan amal-amalan kecil, karena boleh jadi dari amalan itulah kita bisa masuk surga, sebagaimana kisah wanita tua penyapu jalan yang dikabarkan Rasulullah menjadi penghuni surga. Atau kisah sahabat yang karena kelapangan hatinya meng-ikhlaskan kesalahan orang-orang yang melukainya menjelang tidurnya, menjadi penghuni surga pula. Atau Bilal yang karena keistiqamahannya menjaga wudhu&shalat 2 rekaat sesudahnya, ternyata memberi kabar gembira bahwa terompahnya saja sudah didengar Rasulullah di surga. Alangkah indahnya. Semoga kita mendapatkan Nikmat Agung jannah dengan selalu mengingat akan mahalnya nikmat Allah, yang memunculkan semangat untuk bersyukur dan beramal shalih yang tak kan pernah padam selamanya.